BADUNG, (PiiBali.or.id) — Leadership training (pelatihan kepemimpinan) merupakan salah satu agenda rutin Pelajar Islam Indonesia yang diadakan pada saat liburan sekolah. Kegiatan ini diadakan oleh Pengurus Wilayah maupun Pengurus Daerah yang tersebar di beberapa Provinsi Indonesia.

Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Bali dalam kesempatan liburan sekolah akhir tahun ini mengadakan Leadership Basic Training (LBT) bertepatan pada tanggal 16 s.d 23 Desember 2018. Bertempat di MIT Baitul Amin Nusa Dua, Badung, Provinsi Bali, LBT diikuti pelajar SMP dan SMA sederajat 40 peserta dengan rincian: 11 Badung, 13 Buleleng, 16 Denpasar.

PII Bali mengadakan LBT dengan tema “Membentuk kader PII yang memiliki kepribadian muslim, cendikia dan pemimpin” dimana tema tersebut diangkat dari citra diri kader PII yang termaktub dalam Falsafah Gerakan.

PII Bali berharap dengan diadakannya LBT kali ini dapat memotivasi pelajar untuk menempa diri menjadi pemimpin dan menjadikan PII sebagai wadah membina diri untuk membentuk jati diri sesuai Islam. Para peserta juga diharapkan aktif memberi kontirbusi untuk masyarakat melalui PII.

Sekilas Tentang Training Pelajar Islam Indonesia

Penyelenggaraan Training Pelajar Islam Indonesia utamanya dilatarbelakangi oleh semakin meluas dan parahnya DEKADENSI moral/akhlak di kalangan pelajar, khususnya di kalangan pelajar Islam di Indonesia. Permasalahan moral memang merupakan permasalahan klasik umat manusia sejak manusia pertama (Nabi Adam) menginjakkan kakinya di muka bumi.

Dengan semakin berkembangnya jaman dan juga semakin meningkatnya populasi, permasalahan yang dihadapi juga menjadi semakin pelik (kompleks). Dari permasalahan yang sebelumnya hanya berskala nasional kini sudah pula bertransformasi menjadi permasalahan yang bersifat trans-nasional.

Sebut saja beberapa di antara sekian banyak permasalahan pelajar masa kini adalah seperti penyalahgunaan NARKOBA, pergaulan bebas hingga keterlibatan pada kasus terorisme, dan masih banyak lagi lainnya.

Faktor Penyebab

Dari fenomena yang berupa permasalahan moral pelajar tersebut, apakah kemudian semua kesalahan bisa serta merta ditimpakan kepada para pelajar yang melakukan atau terlibat di dalamnya? Pemikiran yang demikian adalah pemikiran yang hanya ingin mencari jalan pintas penyelesaian sesaat.

Mungkin bisa meredam untuk satu dua kasus dan memberi sedikit efek jera bagi komunitas atau populasi tertentu, tapi belumlah bersifat menyeluruh (komprehensif) yang merunut sampai ke akar masalah sehingga ditemukan formula yang teruji untuk bisa melakukan pencegahan (prevention).

Di sisi lain, ada beberapa hal yang tidak dapat digolongkan sebagai permasalahan moral pelajar namun memiliki relevansi yang tinggi terhadap “kesuksesan” individual seorang pelajar. Beberapa di antaranya seperti kurang/lemahnya motivasi belajar, tidak tersalurkannya minat dan bakat, dsb.

Motivasi belajar yang rendah tentu saja akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa, sementara minat dan bakat yang tidak tersalurkan sebagaimana mestinya akan berdampak pada kehidupan siswa yang menjadi tidak bersemangat/bergairah.

Sebagaimana halnya permasalahan moral, terhadap hal ini tidak bisa kemudian “kesalahan” ditimpakan begitu saja kepada siswa tanpa melihat hal-hal (faktor) yang mempengaruhinya dan juga proses (pembelajaran) yang dialami. Proses biasanya berkaitan dengan interaksi pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran, sementara faktor meliputi faktor internal psikologis siswa dan juga faktor eksternal lingkungan, sistem, dsb.

Terakhir yang tidak kalah penting atau bahkan menjadi yang paling utama, yaitu fenomena dekadensi moral terkait hubungan amaliyah rububiyah dengan Sang Pencipta (al-Khaliq). Kualitas hubungan ini akan sangat mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Apabila seorang pelajar tertib dan berkualitas dalam sholatnya, misal, maka sudah hampir bisa dipastikan prestasinya akan terjaga dan akan terhindar pula dari permasalahan moral sebagaimana disebutkan sebelumnya.

Pendidikan yang paripurna adalah pendidikan yang tidak memisahkan ilmu dunia dari ilmu-ilmu agama dan begitu pula sebaliknya. Ia tidaklah bersifat sekuler melainkan justru bersifat integratif saling menguatkan antara ilmu dunia dan ilmu-ilmu agama. (rz)