DENPASAR, (PIIBALI.OR.ID) — Imam al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya Ulum ad-Din, menyatakan, ada beberapa cara mendeteksi dan mengetahui seseorang sedang terkena virus sombong. Pertama, kelebihan seseorang karena ilmunya, baik itu ilmu dunia maupun akhirat.

Bila ilmu sudah banyak dikuasai, tak jarang dia rentan menganggap orang lain bodoh. Kalau ada orang yang lebih hebat darinya, dia akan berusaha menolaknya. Orang seperti ini ingin selalu dihormati, terutama ketika tampil di keramaian. Dia selalu minta dilayani, pandai memerintah, dan banyak berbicara.

Padahal, kata tokoh bergelar Hujatt al-Islam itu, mestinya ilmu yang dimiliki membuatnya semakin saleh beramal. Bukan sebaliknya, mengarahkan pada titik kehancuran. Ilmu yang Allah titipkan kepadanya digunakan untuk dirinya sendiri, bukan untuk diajarkan kepada orang lain.

Menurut tokoh yang dikenal dengan Algazel di Dunia Barat itu, bisa jadi orang sombong membangga-banggakan frekuensi ibadah. Saking rajinnya beribadah, menganggap orang lain tidak mampu menyainginya. Termasuk, di dalam kesombongan adalah ketika melihat kemaksiatan. Kemudian, di dalam hati tebersit ucapan, “Apa jadinya kalian ini? Mengapa tidak beramal saleh seperti aku?”

Bahkan, kata pengarang kitab Tahafut al-Falasifah ini, pemilik badan yang kekar pun bisa bersikap sombong. Dia kuat mengangkat dan mengendalikan sesuatu dengan kekuatannya. Orang lain belum tentu. “Saya kuat. Yang lain tidak.” Ini juga bisa mengarah kepada kesombongan.

Al-Ghazali menyebutkan sebuah Hadis Riwayat al-Bazzar dari Abu Hurairah berkaitan dengan sanksi sombong kelak di akhirat. Mereka akan dikumpulkan. Badannya akan menjadi kecil seperti semut. Kemudian, akan diinjak-injak karena hinanya mereka di mata Allah. Kehinaan itu muncul karena manusia menjadi sombong, seperti iblis yang tidak mau bersujud kepada Nabi Adam.

Alquran mengisahkan orang sombong seperti Firaun yang melawan Nabi Musa AS. Firaun mengaku sebagai Tuhan. Dia memerintahkan penduduk Mesir kala itu agar dirinya disembah. Dia merasa unggul dari semua manusia yang ada. Allah akhirnya memusnahkannya dengan ditenggelamkan di Laut Merah.

Raja Namrud yang hidup pada zaman Nabi Ibrahim juga masuk dalam catatan. Pada masa hidupnya, Allah menurunkan malaikat dalam bentuk burung, namun dibunuh olehnya dengan panah. “Akulah raja segalanya. Aku telah membunuh Tuhan di surga,” ungkapnya dengan congkak. Namun kemudian, Allah mencabut nyawanya dengan nyamuk. Raja Namrud yang berbadan besar mati karena digigit nyamuk yang kecil. (Republika)