DENPASAR, (PIIBALI.OR.ID) — “Tolong PII dijaga, karena ini adalah amanah ummat. Embanlah dengan penuh ghirah, perjuangan dan pengorbanan serta semangat ukhuwah…” Inilah salah satu kalimat dari Mas Joesdi-panggilan akrabnya-yang selalu disampaikan pada tiap aktivis PII yang berkunjung kerumahnya.

Mas Joesdi sangat disiplin dalam beribadah. Walau sakit, ia shalat malam dijalaninya terus. Bahkan bulan Desember 1997, empat bulan sebelum meninggal, sempat menunaikan ibadah umrah. Seminggu sebelum meninggal Mas Joesdi masih memberikan nasehat-nasehat kepada seluruh Pengurus Wilayah PII se-tanah air pada acara Pekan Orientasi Ta’dib Nasional (PORTANAS), sambil duduk di atas kursi roda.

Kunjungan seluruh Pengurus Wilayah PII se-tanah air itu dilakukan pada 3 Maret 1997, barangkali sebagai momentum perpisahan, pertemuan terakhir dengan seluruh pengurus PII, dipertemukan dengan kader-kader yang dididik oleh organisasi yang didirikannya pada 4 Mei 1947, bersama Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, Ibrahim Zarkasyi, Tejaningsih.

Beliau meninggal dunia di rumah sakit Telogorejo, Semarang sekitar pukul 11.55 Wib, Selasa, 11 Maret 1997. Almarhum meninggal pada usia 74 tahun dengan meninggalkan seorang istri Hj. Hunikah (62) serta delapan orang anak.

Joesdi Ghazali lahir di Jimus, Pulonharjo, Klaten, 20 Oktober 1923. Selain belajar di beberapa pesantren, beliau juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam (Universitas Islam Indonesia-sekarang). Beliau sempat juga belajar di Harvard University AS.

Mas Joesdi dikenal memiliki visi pandang yang sangat tajam dan disiplin tinggi serta kritis. Sikap itu sudah dimiliki sejak masih muda. Gagasan mendirikan organisasi PII merupakan aktualisasi visi yang sangat jauh ke depan dengan cita-cita “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi seluruh bangsa Indonesia dan umat manusia”.

Kedisiplinan Mas Joesdi dilihat dari semangat yang luar biasa ketika hendak mendirikan PII, selama beberapa bulan sebelum pendirian, Mas Joesdi rajin berkeliling, bersilaturahim dengan berbagai alim ulama, kyai, pesantren, cendekiawan Islam. Sembari bersilaturahim, Mas Joesdi berkeluh kesah semakin melebarnya jurang antara pelajar di sekolah umum dan pendidikan pesantren. Gagasan mengintelekkan kyai dan menkyaikan intelek (pelajar sekolah umum) terus dicita-citakan sembari merenung dan terus beribadah di Masjid Kauman Yogyakarta.

Mas Joesdi merupakan figur luar biasa bagi generasi penerus organisasi PII. Semasa akhir hidupnya, dalam kondisi sakit, masih senang menerima kunjungan dari pengurus PII dan memberikan motivasi dan semangat perjuangan.

Tekun Beribadah

Satu hal yang mengagumkan, baik di mata keluarga maupun aktivis PII, bahwa Mas Joesdi selalu berusaha untuk tetap dalam keadaan suci, bahkan di malam hari, beberapa kali pun beliau buang air kecil, beliau selalu berwudhu sesudahnya.

Saking besarnya perhatian beliau terhadap masalah kesucian dan ibadah ini, sampai menjelang ke rumah sakit untuk menjalani operasi akibat stroke dan prostat pada pertengahan Ramadhan masih mengimami shalat taraweh di rumah.

Kebiasaan lain yang dipertahankan sejak merintis berdirinya organisasi PII adalah rajin bersilaturahim. Kebiasaan silaturahim ini sampai usia senja masih dijalani dengan mengunjungi beberapa tokoh dan tetangga.

Menurut H. Ibrahim Zarkasyi, rekan seperjuangan dalam membidani lahirnya PII, Mas Joesdi memang sejak muda menunjukkan sikap yang sangat baik. “Bahkan saking baiknya, sampai saya menariknya ke dalam keluarga saya. Lantas dia menikah dengan adik saya,” tutur Ibrahim Zarkasyi

Cita-cita kyai yang intelek dan intelek yang kyai menurut Ibrahim Zarkasyi dilatarbelakangi oleh kehidupan Mas Joesdi ketika nyantri di Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum, Solo seangkatan dengan Munawir Syadzali, bekas Menteri Agama. Saat kuliah di STI, timbul pertanyaan dalam benak beliau, mengapa masyarakat pesantren dan masyarakat sekolah umum tidak bisa mencapai titik temu. Dari situlah dicita-citakan, alangkah baiknya apabila diciptakan masyarakat yang menyatu. Diharapkan PII mampu mewujudkan cita-cita tersebut.

Mengenai gagasan kyai yang intelek, sempat ditanyakan oleh Ibrahim Zarkasyi, seperti apa contohnya. Namun oleh Mas Joesdi belum bisa memberikan contoh.

Tantangan Baru

Gagasan itu sebenarnya dalam diskursus memperingati millennium baru penanggalan Islam abad ke-15 Hijriyah baru muncul. Kerinduan pada mujtahid, pembaharu Islam yang memiliki pengatahuan luas dan berkepribadian Islam adalah “kyai yang intelek”.

Pada contoh lain, tahun 2002 ketika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di seluruh Indonesia kemudian mencita-citakan gagasan “integrasi ilmu dan agama” dalam wujud lembaga pendidikan Islam menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Bentuk nyata dalam gagasan itu adalah masuknya banyak fakultas baru yang bersifat umum, seperti Fakultas Sosial-Humaniora, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran dan lain sebagainya.

Sebagai organisasi kader, PII mengemban amanah untuk terus mendidik generasi baru yang memiliki kecakapan ilmu dan skill, memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Tantangan baru menghadapi abad ke-21 Masehi, adalah kita juga harus melakukan pendidikan agar kader memiliki kemampuan ekonomi.

Kemampuan ekonomi sangat dibutuhkan dalam dunia yang serba komersial. Tidak ada makan siang gratis.

Atau barangkali kita sebagai kader PII dan aluminya yang sudah tersebar di seluruh sudut-sudut kota di penjuru dunia bisa menjawabnya, “apakah kita sudah bangkit menjadi kyai yang intelek…??” (wyn)

Diolah dari berbagai sumber.