BADUNG, (PIIBALI.OR.ID) — Beberapa orang beranggapan membaca buku merupakan kegiatan yang tidak menarik dan membosankan. Membaca hanya dilakukan orang-orang tertentu saja. Bahkan kini manusia lebih banyak disibukan dengan gadget yang membuat manusia menjadi makhluk yang multitasking. Segala hal dilakukan secara bersamaan seperti halnya makan sambil bales chat, bersosial media sambil shopping, atau mungkin buat tugas sambil dengerin musik. Kita manusia banyak menghabiskan waktunya untuk online, bahkan kita rela berjam-jam men-scroll sosial media kita hanya untuk menghilangkan suntuk dan bosan. Kita hampir tidak pernah lagi melihat orang yang berjam-jam duduk sambil baca buku dalam sebuah penantian. Karena buku kini tergantikan oleh gadget yang bisa melakukan segala hal termasuk membaca.

Dalam sebuah kegiatan Resensi buku yang diadakan Pelajar Islam Indonesa (PII) Bali setiap dua pekan sekali, beberapa teman-teman disana mengeluhkan tentang buku yang ia baca. Mereka mengeluh karena buku yang mereka resensikan sedikit berat dan “mereka harus mengulang-ulang bacanya agar mereka memahami maksud dari buku tersebut”. Mendengar beberapa keluhan tersebut, saya merasa tidak sendiri karena saya juga mengalami hal tersebut ketika saya memulai untuk membaca buku. Pada saat itu saya memulai membaca buku yang sangat ringan hingga lupa dengan judulnya, tapi yang saya ingat buku itu tentang bagaimana caranya kita agar tidak gugup didepan panggung. Saya terobsesi untuk membacanya karena saya khawatir dengan demam panggung, karena  saya ingin memulai menjadi Stand Up Comedian. Padahal bahasa yang buku tersebut sajikan tidak terlalu berat. Tetapi untuk memahami tips-tips yang diberikan, saya harus mengulang-ulang membaca kalimat yang ada pada buku tersebut agar bisa hanyut dalam teks yang disajikan. Saking bosannya membaca pada saat itu, saya harus melihat nomor halaman terakhir dari buku tersebut dan menduga-duga berapa banyak lagi lembar buku yang harus diselesaikan untuk menyudahi membaca buku itu.

Ilustrasi Desain : Ferdiansyah

Ilustrasi Desain : Ferdiansyah

Keluhan para pembaca buku hari menurut saya ini semua karena kita tidak terbiasa membaca buku, kita tidak terbiasa bertele-tele dengan sebuah teks yang disajikan penulis yang pada akhirnya kita ingin cepat-cepat menyudahi segala kegelisahan ini. Tapi ternyata bukan hanya ini masalahnya. Hal yang sama pun dialami Nicolas Carr (2011)  yang mengatakan dulu saya begitu mudah tengelam ke dalam buku dan artikel yang panjang. Pikiran saya akan hanyut ke dalam seluk-beluk cerita atau pendapat, dan saya biasa menghabiskan berjam-jam untuk membolak-balik lembar prosa. Kini, tidak demikian. Konsentrasi saya mulai gelisah, kehilangan fokus, dan mulai mencari aktivitas lain. Saya merasa harus memaksa otak saya untuk kembali ke teks. Membaca saksama yang dulu terjad secara alami kini harus diusahakan.

Dalam bukunya, Nicolas Carr (2011) membahas juga beberapa orang-orang yang berpendidikan mengalami masalah yang sama. Mereka tak lagi bisa fokus kedalam teks yang bertele-tele. Mereka kini bukan membaca dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah tapi membaca hanya melompat-lompat, memindai mana informasi yang diinginkan. Semua ini terjadi karena kemajuan teknologi yang begitu pesat. Proses membaca tergantikan dengan proses memindai karena kita terbiasa mencari informasi di web dan benar-benar memindainya untuk mendapatkan informasi yang penting-penting saja.

Kemajuan ini melatih otak manusia menjadi multitasking yang membuat otak yang seharusnya memilki fokus tajam kini menjadi tumpul dan bercabang. Membaca hari ini mungkin akan terasa sulit dengan sebuah gadget disebelah buku. Godaan notifikasi sosial media membuat kita ingin cepat-cepat beralih ke gadget. Sekali lagi kita harus membiasakan diri dengan  membaca buku. Jika masih dirasa sulit, cobalah memulai dari buku yang ringan dan carilah suasana yang benar-benar dirasa tenang. Sehingga kita bisa mampu fokus dan benar-benar hanyut dalam cerita atau pendapat dalam sebuah buku.

Terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan pembaca benar-benar membaca bukan memindainya.

Syukron Jazzakumullah Khoir (wyn)

Ferdiansyah
PW PII Bali