DENPASAR, (PIIBALI.OR.ID) — Berbicara tentang Pelajar Islam indonesia (PII) jelas tidak bisa lepas dari sosok H.M. Joesdi Ghazali, S.H -rahimahullah-, pendiri PII. Beliau lahir di Klaten 20 Oktober 1923. Sebelum  berbicara banyak tentang beliau, kami akan kutipkan tulisan (surat) beliau yang beliau tulis tanggal 13 Nopember 1978 di Semarang untuk  Sdr. M. Junaedy Br. A, yang berdomisili di Lampung.

Pengalaman Saya Yang Mengesankan
oleh: H.M Joesdi Ghazali, S.H.

Mengenai pengalaman saya yang mengesankan diri pribadi saya, antara lain dapat saya sebutkan sebagai berikut:

  1. Sejak kecil saya diajar membaca Al-Qur’an oleh ayah saya sendiri, yang bernama Imam Ghazali dan sangat tekun terhadap agama, kebetulan memang menjadi imam masjid dan termasuk disegani oleh masyarakat di kampung. Rupa-rupanya ayah saya mnginginkan agar saya bisa meneruskan cita-citanya, sehingga begitu taman Sekolah Rakyat (SD), saya disuruh belajar di Madrasah dan pergi ke pondok pesantren. Saya mengikuti perintah ayah saya ini dengan penuh keikhlasan. Sedang saudara-saudara saya lainnya juga famili-famili saya umumnya belajar di sekolah-sekolah umum yang berbahasa Belanda.
  2. Saya belajar di Madrasah Mamba’ul Umum, Sala, sampai tamat kelas XI, setingkat Aliyah, sehingga alhamdulillah saya memahami bahasa Arab. Di samping itu belajar dengan kiyai-kiyai yang terkenal di Sala, untuk belajar ilmu Nahwu, Tasir Al-Qur’an dan Hadist bukhari dengan alm. K.H. Hasyim Asy’ariJombang.
  3. Selama di pesantren saya selalu tidur di masjid, di depan mikhrab, agar dalam sholat subuh jama’ah bersama dengan kyai. Pernah saya dicambuk dengan jubah Pak Kyai karena saya terlambat bangun. Di malam hari saya selalu bangun dan belajar, sedang teman-teman saya tidur nyenyak.
  4. Sewaktu belajar di Jogja (Sekolah Tinggi Islam atau UII) saya tinggal di kampung Kauman, di tengah-tengah tokoh-tokoh PP Muhammadiyah dan para ulama serta pemimpin-pemimpin pergerakan Islam, dan sya kenal baik dengan beliau-beliau itu serta sering bertemu, dan saya angkat mereka adalah guru-guru saya. Saya sering puasa dan sholat malam dan berjama’ah di masjid besar Yogya. pengaruh itu semua banyak menjiwai diri saya untuk mencari jalan guna kemajuan umat Islam yang dimulai dari pelajarnya, yang berarti untuk kemajuan nusa dan bangsa.
  5. Tanggal 25 Februari 1947 saya sudah membuat rencana tentang perlunya mendirikan organisasi Pelajar Islam Indonesia dan pada hari itu sudah saya pilih nama “PELADJAR ISLAM INDONESIA”, dan alhamdulillah ide tsb., diterima oleh segenap pelajar/ mahasiswa Islam, sehingga diresmikan berdirinya pada tgl. 4 Mei 1947. Dan hingga sekarang nama itu tidak pernah berubah.
  6. Saya sadari pada waktu itu, bahwa tamat madrasah kelas XI di sana belum cukup, karena saya ingin menjadi ulama yang intelek, dan ini saya inginkan dalam penjelmaan PII untuk semua anggota PII, supaya mereka bisa menjadi manusia-manusia muslim yang alim dan intelek atau seorang muslim intelek yang alim, mengingat dasar pendidikan mereka ada yang dari madarasah/pondok pesantren dan ada yang dari sekolah-sekolah umum. Untuk itu maka saya memasuki Fakultas Hukum di Jakarta, disamping itu saya belajar bahasa Inggris. Alhamdulillah saya tamat dari Fak. Hukum dan sewaktu testing bahasa Inggris oleh kedutaan besar Amerika saya lulus, dan bisa meneruskan studi di Harvard Universiti, Boston USA, pada tahun 1966-1967.
  7. Dari pengalam-pengalaman saya, maka saya pernah mengunungi 37 negara di dunia dan memimpin delegasi-delegasi Indonesiadalam beberapa kali konperensi Internasional.
  8. Untuk menandai usia PII 30 tahun, saya terbitkan buku Islam dan Dunia Modern, agar bisa diamalkan oleh generasi-generasi mendatang
  9. Sekarang saya sangat bersyukur kepada Allah Subhanahuwata’ala, bahwa pada tahun 1975 saya beserta isteri saya telah menunaikan ibadah haji, suatu perjalan ke luar negeri yang sangat berlainan dengan perjalanan saya ke luar negeri. Karena Masjidil Nabawi dan Masidil Haram di Arafah, Mina dan lain-lain tempat di tanah suci, rasa ketenangan hati dan khusyu’ tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat dinilai dengan uang, itu terlalut inggi harganya.     Dari haji ini, saya ingin untuk berkali-kali dapat menunaikan haji lagi dan berumrah lagi. Mudah-mudahan dalam kesempatan yang bersamaan waktunya untuk kepentingan dunia Islam yang serba menarik hati saya itu.
  10. Dalam kesibukan saya sehari-hari sekarang ini, saya masih sempat memimpin Masjid Baiturrahman Semarang untuk :
    a. menjadi imam subuh dan sekaligus memberikan ceramah Islam, sudah 7 bulan terakhir saya isi Hadist Buchari;
    b.
    memimpin kuliah ahad pagi di masjid Baiturrahman yang selalu dikunjungi oleh 2.000 (dua ribu) kaum remaja putra-putri, berpendidikan SMP, SLTA dan para mahasiswa;
    c.
     kursus mubaligh/mubalighat; d. kursus bahasa Arabdi masjid Baiturrahman yang sudah berjalan 2 tahun;
    e. mengisi siaran radio PTDI tentang Sejarah Kebudayaan Islam;
    f.
     khutbah jum’at di masjid Baiturrahman Semarang yang jumlah pengunung lebih dari 2.500 orang. juga Masjid Besar Semarang yang dikunjungi 2.500 orang;
    g.
     dan memberikan ceramah-ceramah di berpuluh-puluh tempat-tempat kuliah subuh atau kuliah Ahad Pagi di kota Semarang secara bergantian.
  11. Kehidupan di rumah saya, setiap sholat maghrib, selalu sholat berjama’ah keluarga termasuk pembantu, sehingga tiap-tiap maghrib anak-anak pasti sudah siap di rumah. Sholat malam (tahajjud) dan witir di waktu orang lain sedang tidur pulas saya dan isteri selalu tekun mngerjakannya. Dan 04.00 pagi-pagi saya sudah keluar rumah untuk ke masjid dalam bertugas sebagai imam dan penceramah subuh di masjid yang paling terkenal di Jawa Tengah.     Sehabis Sholat maghrib dan shubuh sering membaca Al-Qur’anul Karim walaupun beberapa halaman.      Untuk memenuhi Hobby saya, maka setiap hari membaca surat kabar dalam bahasa Indonesia (1 buah) dan bahasa Inggris (2 buah), dan buku-buku agaman yang sangat perlu untuk bahan memberikan ceramah/khutbah-khutbah.
  12. Akhirnya saya ingin pesankan kepada sdr. jika ada yang sdr. anggap cocok supaya yang baik-baik dicontoh dan dikerjakan, karena kita harus pandai-pandai menjadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat-Nya yang tidak terhingga banyaknya.

Dan sebagai obat hati tiap-tiap manusia ada 5 macam, ialah:

  1. Sering mengosongkan perut dengan puasa-puasa sunnat (Senin-Kamis, tiap-tiap tgl. 13, 14, dan 15, puasa hari Arafah, dan Asyura, dll)
  2. Sering membaca Al-Qur’an dengan difahami artinya
  3. Selalu sholat malam (tahajjud dan witir)
  4. Bergaul dengan para ulama yang saleh-saleh
  5. Selalu merendahkan diri di waktu sahuir dengan mendo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Demikianlah resep yang diberikan oleh Syeh Ibrahim Khowas.

HM. Hoesdi Ghazali, SH
Jl. Pandanaran II/6 Semarang
Telp. 313534

Dari tulisan beliau, kita bisa melihat bagaimana pribadi beliau. Dan sesuai psan beliau, mari kita contoh hal-hal yang baik dari beliau, karena kita harus pandai-pandai menjadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat-Nya yang tidak terhingga banyaknya. (wyn)

 

 

 

 

Sumber: Pilar Dasar Gerakan PII “Dasa Warsa Pertama Pelajar Islam Indonesia”